Sabtu, 08 Oktober 2016

Manajemen Media Massa 1

Pengertian Manajemen Media Massa

Media Massa

Siapa yang tidak mengenal media massa? Setiap hari kita menggunakan media-media tersebut, seperti TV, koran, dan radio.
Dulunya media massa digunakan sebagai alat perjuangan atau provokasi, namun pada umumnya media massa adalah sebuah industri. Media Massa adalah tempat mencari keuntungan bagi para pemiliknya.

Untuk lebih jelas, media massa terbagi atas:
           1.       Komersial
a.       Cetak : Koran;
b.      Elektronik : Radio, Televisi.
           2.       Sosial : Sosial Media.

Jika dilihat dari pembagian di atas, di tengah-tengah media cetak dan elektronik, muncul sebuah istilah “Banci”, yaitu peralihan dari cetak ke teknologi atau yang lebih kita sering sebut dengan internet.
Tahun 1990, Washington Post adalah koran yang pertama kali melakukan peralihan tersebut. Namun, banyak sekali perdebatan yang terjadi atas ketidaksetujuan dengan peralihan tersebut. Oleh karena itu, media yang melakukan peralihan disebut dengan media “Banci”.

Mengapa sih media cetak harus berpindah ke dunia internet? Tentu saja jawabannya sangat mudah:
            1.       Di zaman yang telah tersedia internet dan banyak orang yang menggunakannya, hal itu                       dilakukan agar dapat dengan mudah akses ke internet;
            2.       Dapat mengikuti perkembangan teknologi;
            3.       Dapat di update kapan saja (Up-to-date).

Apa yang harus media cetak lakukan agar medianya dibaca oleh massa?
            1.       Harus memiliki reporter yang sigap, sehat,dan handal menggunakan teknologi (komputer),                 serta memiliki pengetahuan yang padat akan karya;
            2.       Harus dapat menganalisis permasalahan yang sedang terjadi, memiliki kemampuan                             informatik.
Reporter sangatlah penting. Begitu juga pada Radio, reporter harus memiliki suara yang merdu. Apabila pada televisi, reporter harus memiliki penampilan yang menarik dan tidak terlepas dari itu, berita yang divisualkan harus bagus dan sesuai.

Manajemen Media Massa

Lalu apa itu Manajemen Media Massa?
Manajemen Media Massa adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan dengan memaksimalkan sumber daya yang ada.

Dalam membuat sebuah manajemen media massa, hal yang harus kita perhatikan terlebih dahulu adalah membuat Visi dan Misi. Apa itu Visi dan Misi?
Visi : Rumusan kalimat tentang suatu yang besar, yang susah direalisasikan dan tentang cita-cita besar yang susah untuk diukur. Contohnya : Sebuah mimpi untuk berguna bagi bangsa dan negara.
Misi: Rumusan kalimat yang lebih mudah direalisasikan dan dapat diukur. Misi ini merupakan hal yang dilakukan agar dapat melaksanakan visi yang telah dibentuk. Contohnya: Jika ingin berguna bagi bangsa dan negara, kita pertama kali harus menjadi sarjana.

Apa yang dilakukan setelah membentuk Visi dan Misi? Kita harus merancang Tujuan yang akan kita raih dan menentukan sasaran yang ingin kita capai. Apa itu Tujuan dan Sasaran?
Tujuan : Apa sih yang ingin diraih oleh perusahaan kita?;
Sasaran: Target dari tujuan perusahaan yang dapat diukur. Contohnya: Agar dapat jadi seorang sarjana, kita harus lulus dari ujian sehingga tujuan lebih dapat diukur.

Jika disatukan, contohnya adalah Visinya kita ingin menjadi sarjana bahasa, Misinya kita harus menjadi ahli bahasa terlebih dahulu. Tujuan kita untuk menjadi sarjana bahasa adalah untuk berguna bagi nusa bangsa, oleh karena itu kita harus memiliki sasaran, yaitu mendapat nilai bagus agar dapat lulus menjadi sarjana.

Namun, apakah bisa kita mencapai tujuan tapi tidak mencapai pada sasaran? Tentu saja bisa. Contohnya: Kita ingin membeli permen di sebuah warung, namun sesampainya kita di warung tersebut ternyata permen yang mau dibeli tidak ada. Kita sampai di tujuan (warung) namun perme yang akan dibeli (sasaran) tidak ada.

Setelah kita mengetahui visi, misi, tujuan, dan sasaran perusahaan, langkah berikutnya adalah Menyusun Strategi untuk mencapai semuanya itu. Adapun hal-hal yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran kita, yaitu:
            1.       Modal;
            2.       SDM (Tenaga Kerja);
            3.       SDA (Waktu);
            4.       Equipment (Teknologi).

Dalam menyusun strategi, kita harus memikirkan suatu rencana strategis yang OPTIMAL. Apa itu rencana strategis yang optimal? Terlebih dahulu kita harus mengerti apa pengertian dari efektif dan efisien. Efektif dan efisien sebenarnya hampir sama, tetapi jika ingin efektif, pengeluaran dana yang dilakukan lebih besar namun tentu saja lebih terjamin. Jadi dapat dikatakan efektif lebih baik daripada efisien. Lalu, apa itu rencana strategis yang optimal? Rencana yang tujuannya lebih mudah tercapai, tidak terlalu efisien tapi untuk mengurangi kerugian lebih banyak (lebih terjamin). Misalnya, kita adalah mahasiswa jurusan kedokteran. Tentu saja untuk masuk ke jurusan tersebut sudah banyak dana yang telah kita keluarkan seperti biaya kuliahnya yang sangat mahal. Namun, semakin hari ternyata jurusan tersebut bukan passion kita. Oleh karena itu, kita memutuskan untuk pindah ke jurusan lain walaupun akan mengeluarkan biaya yang lebih besar lagi dan mengorbankan biaya dan waktu sebelumnya. Hal inilah yang dinamakan rencana strategis yang optimal.

Rencana itu sendiri memiliki pengertian, yaitu uraian apa saja yang kita inginkan kedepannya, yang kita ungkapkan secara detail hala apa saja yang diinginkan tersebut. Dari contoh di atas, rencana strategis apabila dilakukan pengubahan tujuan, cost yang digunakan akan sangat besar.
Lalu, dalam perencanaan strategis, terdapat Rencana Jangka Panjang, Menengah, dan Pendek.
    1.    Rencana Jangka Panjang : 5 – 10 tahun;
    2.    Rencana Jangka Menengah : 1 – 5 tahun;
    3.    Rencana Jangka Pendek : 1 minggu – sekian bulan.

Namun, dalam setiap perencanaan tidak semua dapat berjalan baik, pasti ada masalah yang datang. Sehingga kita harus mengubah rencana dengan tetap menuju tujuan awal. Dalam perubahan rencana, kita harus menyiapkan Langkah Taktis dalam mengimplementasikan Rensta. Langkah taktis digunakan untuk:
            1.       Menghindari halangan;
            2.       Improvisasi yang dibuat untuk menipu/mengecoh pihak lain.

Kesimpulan:
Untuk membuat suatu manajemen media massa, hal yang harus dilakukan:
            1.       Merumuskan visi, misi, tujuan, dan sasaran;
            2.       Menyusun strategi dan hal apa saja yang diperlukan;
            3.       Menyusun rencana panjang, menengah, dan pendek;
            4.       Menyiapkan langka taktis apabila terjadi perubahan rencana.

Rabu, 31 Agustus 2016

Hamen: Penerus Kepala Desa Dayak Iban

(Cerita yang dibuat berdasarkan dari kebudayaan Suku Dayak Iban (Kalimantan Barat) yang telah dimodifikasi)
          Di malam hari yang sungguh indah di sebuah desa di Kalimantan Barat, tepatnya di Suku Dayak Iban, lahirlah seorang anak Tuai Kampung (Kepala Desa) yang nantinya akan menjadi penerus yang sangat dihormati oleh warganya.
        “Sedikit lagi indai (ibu). Anda pasti bisa,” kata seorang bidan desa. Beberapa saat kemudian terdengarlah suara tangisan bayi.
           “Haahh.. Haahh..”
        “Selamat indai! Bayi Anda laki-laki. Anda berhasil, indai.” Bidan tersebut pun memberikan bayinya kepelukan ibu. “Saya akan memanggil Tuai Kampung Mualang.”
         “Tuai Kampung Mualang, bayi Anda telah lahir. Anda bisa masuk sekarang.” Dengan sedikit berlari, ayahnya menghampiri bayi tersebut dan mengelus kepala istri dan anaknya.
           “Mualang, lihat bayi kita. Dia terlihat sama sepertimu,” tutur ibu dengan wajah yang kelelahan tetapi tetap menunjukkan senyum di mulutnya.
           “Kita akan menamainya Hamen. Orang yang akan selalu mencintai sukunya.”

* * * * * * * * * * * * * *

17 tahun kemudian.    
Hamen tumbuh sebagai anak lelaki yang manis. Ia selalu dicintai seluruh warga desa karena sifatnya yang lemah lembut. Sifatnya itu merupakan turunan dari ibunya. Namun, karena sifatnya tersebut ia diragukan oleh beberapa warga desa sebagai penerus Tuai Kampung.
“Apa yang kamu lakukan Hamen!? Kenapa kamu bisa dikalahkan oleh bawahanmu sendiri dalam perburuan?” Ayah adalah orang yang keras. Ia selalu menuntut Hamen untuk dapat menjadi pria yang kuat dan perkasa.
“Aku tidak bisa melukai rusa kecil itu, apai. Wajahnya terlihat takut saat aku membidikkan panah...” Plakk. Tidak sempat Hamen menyelesaikan kalimatnya, ayah menamparnya dengan sangat kuat. Hamen pun jatuh terkapar.
“Rusa kecil saja kamu tidak dapat membunuhnya. Apalagi menjaga suku kita dari serangan musuh? Apai telah banyak melatihmu tetapi kenapa kamu tidak pernah berubah?”
Apai, maafkan aku.”
“Kamu mengecewakanku, nak.” Ayah meninggalkan ruangan dengan raut wajah yang sedih. Hamen tidak mengerti, mengapa ia harus membunuh rusa kecil yang tidak bersalah itu? Apakah ia harus membunuh untuk melindungi sukunya?
Dengan termenung, Hamen pergi ke tempat yang biasa ia datangi jika sedang bersedih. Sebuah danau di pinggir desa yang cukup membuatnya tenang sambil mendengar kicauan burung yang merdu. Tidak menunggu lama saat Hamen duduk di atas batu, burung-burung tersebut langsung mendatanginya.
“Suaramu begitu merdu, hai burung kecil. Seandainya aku bisa hidup seperti kalian yang sangat damai.” Hamen mengelus kepala salah satu burung yang hinggap di pundaknya. Tiba-tiba terdengar suara gemerisik yang berasal dari rerumputan ilalang yang ada di belakang Hamen.
Srek.. Srek..
“Siapa di sana?” Tanya Hamen dengan waspada.
“Ah ini aku Hamen.” Dari balik rerumputan ilalang tersebut, muncullah teman dekat lelaki Hamen, yaitu Simpei. Ia adalah teman seperjuangan Hamen sejak masih kecil. Usianya 2 tahun lebih tua daripada Hamen. Tentunya Simpei merupakan salah satu orang kebanggaan ayah karena keahliannya dalam berburu dan juga bertarung.
“Ternyata kamu Simpei. Ada apa?”
“Seharunya aku yang menanyaimu. Aku tadi melihatmu saat bersama dengan ayahmu,” kata Simpei sambil menghampiri Hamen.
“Haaahh.. Aku pantas diperlakukan seperti itu. Aku memang anak yang mengecewakan. Padahal aku nantinya akan menjadi Tuai Kampung, tetapi berburu saja aku tidak bisa. Selain itu, dalam hal bertarung pun kamu selalu yang nomor satu.”
“Hahaha kamu terlalu merendahkan diri. Memang benar, kamu sangat lemah kalau berhubungan dengan hal itu. Namun, hmm.. Kamu orang yang baik hati dan adil. Tidak sepertiku yang kasar. Hahahaha.” Dengan nada yang bercanda, Simpei memukul belakangku dengan cukup kuat.
“Auuw. Kebiasaan.”
“Yaahh tetapi Hamen, aku setuju dengan kata-kata ayahmu. Umurmu telah masuk keusia 17 tahun. Sebentar lagi, kamu akan menginjak umur dewasa. Ayahmu sudah lanjut usia, mau tidak mau kamu harus bisa melindungi suku ini. Kamu harus menjadi kuat.”
“Ya aku tau Simpei. Namun, itu sungguh sulit. Aku jadi teringat masa kecil kita dulu. Tidak usah memikirkan hal seperti ini dan tentunya masih ada dia.”
“Dia? Haha ternyata kamu masih mengingatnya?”
“Tentu saja Simpei. Dia adalah gadis kecil yang selalu menerimaku apa adanya.”
“Iya iya tau. Cinta pertamamu kan? Gadis yang selalu ada dipikiranmu sampai sekarang ini,” goda Simpei pada Hamen.
“Ckckck. Dasar kamu Simpei. Berhenti menggodaku!”
“Hahaha iya ampun ampun. Namun, dimana ya keberadaannya sekarang? Dia menghilang saat terjadi peperangan 12 tahun yang lalu. Aku merindukannya.”
“Ya. Aku juga merindukannya... Sangat merindukannya...” Setelah Hamen mengatakan hal itu, keduanya termenung dalam memori. Suasana menjadi hening, hanya suara kicauan burung yang terdengar dan juga gemerisik daun akibat embusan angin yang bertiup lembut.

* * * * * * * * * * * * * *

            “Tuai Kampung Mualang! Ada berita buruk dari perbatasan desa di daerah timur,” teriak salah satu prajurit desa dari luar rumah Tuai Kampung sambil masuk ke dalam rumah.
            “Apa yang mau kamu laporkan?” Tanya Mualang dengan nada serius.
            “Pertahanan kita di perbatasan timur desa telah diserang oleh musuh semalam. Mereka mencuri hasil panen kita dan membunuh sekitar 5 orang suku kita.”
            “Apa? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Mereka telah melanggar perjanjian.”
            “Apa yang harus kita lakukan, Tuai Kampung Mualang?”
            “Hmm.. Tidak ada cara lain. Kita harus melakukan upacara itu.”
            “Maksud Anda, upacara...”
       “Ya, prajurit. Upacara Mengayau. Beritahukan kepada seluruh warga desa siapkan semua keperluannya selama seminggu. Kita akan melakukan upacara itu minggu depan dan setelah itu kita akan memburu suku Kenyah.”
            “Baik, Tuai Kampung Mualang.”
       Seperti perkataan ayah, prajurit tersebut mengumumkan kepada seluruh warga desa untuk mempersiapkan Upacara Mengayau. Semua warga yang mendengarnya agak kaget dengan berita tersebut, tetapi ada pun warga yang senang dengan perkataan prajurit tersebut. Mereka senang karena akhirnya upacara tersebut dapat dilaksanakan kembali.
            “Benarkah yang aku dengar? Perbatasan kita telah diserang dan ada beberapa warga kita yang mereka culik?” Tanya Hamen dengan gemetar.
       “Iya dan kita akan melakukan Upacara Mengayau. Tuai Kampung Mualang telah mengizinkannya tadi pagi. Warga sedang mempersiapkan semuanya,” jawab Simpei.
            “Dan aku akan menjadi salah satu pengayau. Namun, tenang saja kamu tidak akan diikutkan dalam peperangan kali ini. Tuai Kampung Mualang tidak akan setega itu,” balas Simpei lagi.
            Upacara Mengayau adalah upacara yang dilakukan ketika akan pergi berperang. Mengayau sendiri berarti berburu kepala musuh yang dilakukan secara berkelompok. Pengayau akan memenggal semua kepala musuh kaum pria yang mereka temui. Ayah Hamen memilih semua kaum pria yang layak untuk menjadi pengayau. Pengayau yang dipilih harus memiliki hati yang bersih dan memiliki semangat juang yang tinggi. Ayah Hamen pun memanggil nama yang akan ikut berperang satu-persatu. Salah satunya adalah Simpei. Ia memang prajurit terbaik di desa. Namun, semua orang terkaget saat mendengar nama Hamen disebutkan.
            “Dan yang terakhir, Hamen. Kamu juga akan ikut dalam perang kali ini. Saya rasa ini adalah waktu yang tepat untukmu belajar bagaimana menjadi penerus yang kuat.”
            “Namun Tuai Kampung Mualang, Hamen belum cukup kuat untuk ikut serta dalam peperangan ini,” protes Simpei. Beberapa warga desa pun ada yang menyetujui dan juga memrotes keputusan Tuai Kampung Mualang.
            “Saya sudah membuat keputusan. Orang yang mencoba untuk melanggarnya akan saya kenakan hukuman. Sekarang kalian harus fokus dalam menyiapkan upacara tersebut.”
            Setelah pengumuman sekaligus pembagian tugas dari Tuai Kampung Mualang selesai, semuanya kembali mempersiapkan apa saja yang diperlukan untuk Upacara Mengayau. Kaum perempuan diberikan tugas untuk menyiapkan dan menghidangkan sesaji. Kemudian menyerahkannya kepada Tuai Kampung Mualang. Sesaji-sesaji tersebut berupa tujuh piring pulut (ketan), tujuh piring tempe (pulut yang dicampur dengan beras), tujuh piring rendai (terbuat dari beras ketan yang disangrai), tujuh butir telur ayam matang, tujuh buah ketupat yang diikat, tujuh jalong cubit (seikat benang yang diikatkan pada ketupat), sepiring utai bekaki (tepung pulut dicampur dengan tepung beras), dua ekor babi (jantan atau betina), tiga ekor ayam jantan, tengkorak manusia sebagai simbol manusia, sebuah kelapa tua sebagai simbol kepala manusia, dan minuman tuak. Tidak lupa juga sirih, sedek (gambir), rokok, kapur pinang, buah pinang dan tembakau yang ditempatkan dalam satu piring sendiri. Mereka mencari sesajian tersebut di sekitar hutan. Pada saat upacara berlangsung, kaum perempuan juga bertugas untuk menemani para pengayau menari. Sementara itum kaum lelaki diberikan tugas oleh Tuai Kampung Mualang untuk menghias rumah adat betang, yaitu rumah adat suku Dayak yang khusus digunakan untuk menyelenggarakan segala upacara adat termasuk upacara adat mengayau. Kemudian menyiapkan alat-alat perang, serta peralatan dan bahan yang dibutuhkan. Peralatan yang harus disiapkan oleh mereka berupa sangkok (tombak), terabi (perisai), mandau (senjata khas suku Dayak). Alat-alat tersebut akan ditempatkan di tempat yang khusus dan tidak boleh dipegang oleh sembarang orang karena dianggap sakral. Peralatan yang lain juga meliputi tersang (ancak yang terbuat dari bambu untuk menyimpan sesaji), selembar bendera lima warna, yaitu merah (melambangkan sifat berani), hijau (melambangkan kesuburan), kuning (melambangkan ketulusan), hitam (melambangkan perlindungan dari orang yang bermaksud jahat), dan putih (melambangkan hati dan pikiran yang suci dan jernih), lalu grumung (gong kecil), tawak (gong besar), gendang, dan terakhir bebendai (gong sedang).
            “Semua alat dan sesajian harus lengkap. Tidak boleh ada yang kurang,” teriak salah satu panitia yang ditunjuk langsung oleh Tuai Kampung Mualang untuk bertanggung jawab atas kelengkapan upacara. Selama seminggu mereka semua harus dapat mengumpulkan semuanya.
            Tibalah hari upacara. Semua warga desa serius mengikuti setiap proses pelaksanaan upacara. Dalam proses persiapan, mereka mengumpulkan semua bahan dan alat di tempat yang telah disediakan. Tidak lupa juga kaum lelaki menyiapkan pengaroh (jimat) dan mencari lauk-pauk untuk perbekalan selama mengayau. Setelah semua persiapan dirasakan cukup, dimulailah pelaksanaan upacara. Di dalam rumah betang, para pengayau datang dan duduk secara berderet, serta dihidangkan sesaji yang telah disediakan.
            “Kamu tidak usah takut aku akan menjagamu di medan perang. Ikuti saja upacaranya dengan baik,” bisik Simpei setelah duduk kepada Hamen. Hamen pun mengangguk mengikuti perkataan Simpei.
            Keadaan di ruangan tersebut begitu sunyi hingga Ketua Suku mulai membacakan mantra yang terdengar sangat jelas sambil mengibas-ngibaskan seekor ayam di atas kepala para pengayau sebanyak tiga kali. Selanjutnya, ia membacaan mantra kepada sesajian yang ada. Setelah itu, ia menuangkan air tuak ke tanah sebanyak tujuh kali untuk memanggil roh nenek moyang agar melindungi dan membantu pada pengayau dalam perang.
            Kemudian, Ketua Suku menumpahkan tuak sebanyak tiga kali ke tanah untuk mengundang dewa-dewa agar hadir di rumah betang tersebut dan meminum tuak tersebut. Ia melakukan hal tersebut agar roh-roh nenek moyang yang sudah berada di rumah tersebut ikut menikmati sesajian yang dipersembahkan. Ketua Suku beserta para pengayau dan para tamu lainnya pun menikmati sesaji yang telah disediakan. Sesaji pulut pun dimakan sebagai hidangan pertama karena dianggap sebagai lambang perekat kebersamaan atau kekompakan pasukan dalam perang nanti. Setelah itu, mereka meminum tuak untuk membuat semangat. Tuai Kampung Mualang kemudian mengambil tempe, lalu menaburkan padi ke atas kepala para pengayau yang merupakan lambang bahwa suku Dayak Iban mempunyai hati nurani yang jujur dan luhur laksana padi. Kemudian dilanjutkan lagi dengan menyediakan sirih, rokok, daun apok, serta masing-masing lima batang pelengkapan sesaji yang lain, kemudian diletakkan dalam piring. Piring tersebut diletakkan di ancak (tempat sesaji) dan didirikan di tiang bagian tengah rumah betang (tiang ranyai) yang bertujuan agar para dewa hadir di rumah tersebut. Setelah semuanya selesai, lanjutlah ke proses turun ngayau.
            Tuai Kampung Mualang kembali membacakan mantra-mantra kepada peralatan perang agar diberkati oleh roh kepala-kepala suku terdahulu. Lalu, ia memotong ayam. Saat Tuai Kampung Mualang memotong ayam tersebut, perut Hamen terasa bergejolak. Rasanya ia ingin muntah melihat darah yang menetes dari tubuh ayam tersebut.
            “Hei Hamen, jangan muntah di sini. Kalau kamu muntah bakal fatal akibatnya,” bisik Simpei. Dengan terpaksa Hamen menahan rasa ingin muntahnya tersebut. Upacara pun berlanjut. Darah ayam tersebut diambil dan dioleskan pada kaki dan dahi para pengayau yang akan berperang agar mereka diberkati. Setelah itu, bulu ayam dicabut dan dioleskan di dahi para peserta yang lain agar tidak diganggu oleh roh-roh jahat. Untung saja Hamen dapat menahan rasa jijiknya terhadap darah. Hamen dan para pengayau lainnya pun berdiri mengambil peralatan perang dan diselipkan di pinggang masing-masing. Setelah itu, mereka menuruni tangga rumah betang sambil membawa satu ekor babi dengan tujuan agar para dewa di kahyangan ikut bersama dan membantu dalam perang.
            Namun, saat Hamen menuruni tangga, ayahnya membisikkan sebuah kalimat.
“Ini adalah saatnya kamu membuktikan bahwa kamu pantas untuk menjadi Tuai Kampung berikutnya. Apai mengandalkanmu, nak.” Perasaan Hamen begitu resah saat mendengar kata-kata ayahnya. Hamen mengerti perasaan ayahnya. Ia tahu apa yang dilakukan ayahnya selama ini kepadanya hanyalah untuk membuat warga desa mengakui Hamen. Ayahnya tidak mau anaknya menjadi bahan olok-olokan.
Hati Hamen gelisah. Ia bingung apa yang harus dilakukannya. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus terus melangkah ataukah aku harus mundur? Aku ingin menjadi anak kebanggaan ayah. Aku juga ingin membuat warga desa mengakui aku sebagai penerus Tuai Kampung. Namun, aku begitu lemah.
Begitu banyak hal yang dipikirkan oleh Hamen saat menuruni tangga. Saat para pengayau lainnya sedang memikirkan strategi memotong kepala musuh dengan cepat dan tepat, Hamen teringat akan gadis kecil yang dulu selalu bersamanya. Ia mengingat kata-kata gadis tersebut. “Ingatlah Hamen, mungkin orang berpikir kamu lemah. Namun, kekuatan itu bukan muncul dari pikiran, tetapi dari hati. Kamu bisa menjadi kuat.”
Saat Hamen memikirkan perkataan gadis tersebut, para pengayau dan juga warga desa lainnya sedang melakukan pemanggilan kekuatan dan bantuan kepada Komang yang merupakan makhluk seperti manusia tetapi tidak memiliki wujud. Hamen langsung tersadar saat mereka saling berteriak. Teriakan mereka memiliki kekuatan magis dan supranatural sehingga satu-persatu para pengayau terhipnotis. Sekarang mereka berubah menjadi manusia yang haus akan darah, baik itu membunuh ataupun dibunuh. Hamen yang teringat akan gadis kecil yang menghilang saat peperangan akibat dirinya yang begitu lemah dan juga mengingat apa yang dilakukan musuh terhadap warga desanya pun mengikuti teriakan itu sambil mengeluarkan air mata. Sehingga dalam sekejap, Hamen terhipnotis.
Mulailah waktu perburuan. Sekelompok pengayau pergi menghadapi musuh dengan berbagai alat yang telah disediakan. Mereka diintruksikan tidak boleh untuk berpencar. Karena apabila hal ini dilanggar, mereka akan mengalami kekalahan. Dengan keinginan untuk membunuh, mereka terlihat seperti orang lain. Stamina mereka menjadi lebih kuat. Hamen pun bukan lagi seperti Hamen yang lemah. Walaupun tubuhnya yang kecil, matanya yang tajam penuh dengan kebencian membuat dirinya tampak kuat.
Butuh waktu sekitar 30 menit untuk tiba di tempat musuh. Namun, karena kecepatan langkah para pengayau begitu hebat, mereka hanya memerlukan waktu 15 menit untuk tiba di sana. Saat wilayah Suku Kenyah terlihat, seorang pengayau melemparkan sangkok dengan begitu kuat sehingga senjata tersebut dapat melambung tinggi. Ternyata sangkok tersebut mengenai salah satu prajurit Suku Kenyah yang sedang patroli. Para pengayau memang melakukan serangan secara mendadak sehingga Suku Kenyah tidak sempat melakukan perlindungan. Pertumpahan darah pun terjadi. Satu per satu kepala musuh terpenggal akibat keahlian para pengayau dalam memainkan mandau mereka. Pasukan pengayau hanya terdiri dari 15 orang. Namun, mereka dapat dengan cepat menguasai medan perang. Hamen yang awalnya akan dianggap menyusahkan oleh para pengayau lainnya, akhirnya berubah pikiran saat melihat aksi Hamen yang begitu hebat. Hamen sangat berbeda di medan perang tersebut. Simpei pun menatap kaget Hamen saat melihat telah banyak kepala musuh yang dipenggalnya. Mungkin jika orang melihat aksi Hamen dan Simpei di medan perang tersebut pasti mereka akan berpendapat bahwa Hamen lebih pandai memainkan mandau daripada Simpei.
Hamen tidak mengetahui mengapa tubuhnya dapat bergerak begitu lihai. Ia pun tidak jijik melihat darah yang tertumpah. Ia hanya merasakan marah bercampur sedih di hatinya. Marah akibat warga desanya yang terbunuh dan sedih penyesalan mengapa ia tidak sekuat ini saat melindungi teman kecilnya dulu. 15, 16, 17, 18 kepala telah terpenggal oleh senjata Hamen. Ia tidak kunjung berhenti sampai semua musuh dibasmi. Tentu saja yang ia bunuh hanya kaum lelaki saja, sedangkan beberapa kaum perempuan dan anak-anak mereka sisihkan untuk menjadi budak. Dalam peperangan tersebut, Suku Iban tidak terkalahkan. Mereka dengan mudahnya mematahkan kehebatan Suku Kenyah. Saat Hamen memenggal Tuai Kampung bangsa Kenyah, peperangan pun berakhir.
“Hamen, kami telah mengevakuasi warga suku kita yang telah diculik dan warga Suku Kenyah yang tersisa,” kata Simpei mewakili para pengayau.
“Hitunglah apakah warga kita yang diculik telah lengkap dan apakah ada wanita yang dapat kita bawa untuk menjadi budak kita,” balas Hamen. Karena kehebatan Hamen saat peperangan tadi telah diakui oleh para pengayau lainnya, Hamen mengambil posisi ketua tanpa disadari. Saat ia sibuk membantu Simpei, Hamen terpaku saat mendengar suara panggilan dari arah sekumpulan warga Suku Kenyah.
“Hamen?” Suara itu memanggil dari kejauhan.
“Apakah benar itu kamu, Hamen?” Suara itu kembali berbunyi. Hamen tetap terdiam dan terpaku di atas tumpuan kakinya.
“Hamen, ini aku Kalawa.”
Kalawa? Itu tidak mungkin. Dia tidak mungkin masih hidup. Hamen tidak dapat memercayai perkataan wanita tersebut.
“Kalawa? Kamu Kalawa?” Bukan hanya Hamen saja yang menyadari suara tersebut. Simpei pun menyadarinya dan menoleh ke arah Kalawa.
“Sim.. Simpei?” Tanya Kalawa agak ragu.
“Hahaha iya aku Simpei. Astaga Kalawa, bagaimana bisa kamu di sini? Aku sempat tidak mengenalmu tadi.” Simpei mendekati Kalawa. Sementara itu, Hamen tetap berdiam diri.
Kalawa adalah gadis yang cantik. Dari kecil hingga sekarang, lesung pipit yang dimilikinya saat tersenyum tidak pernah berubah. Hal itulah yang membuat Simpei sangat yakin bahwa dia adalah Kalawa.
“Maaf Kalawa, aku tadi tidak menyadari bahwa kamu adalah Kalawa,” kata Simpei sambil memegang pundak Kalawa.
“Aku sangat senang melihat kalian berdua dan juga warga Suku Iban lainnya,” tutur Kalawa dengan air matanya yang mulai terlihat. Saat mereka sedang bercerita, tidak disadari ternyata Hamen telah berada dekat dengan mereka.
“Ka.. Kalawa? Benarkah kamu Kalawa?” Tanya Hamen memastikan.
“Halo Hamen. Senang sekali bisa bertemu denganmu lagi,” balas Kalawa sambil tersenyum. Sungguh indah senyum Kalawa. Itulah yang ada di benak Hamen. Hamen pun akhirnya percaya sepenuhnya bahwa itu adalah Kalawa. Senyuman yang indah seperti berada di tengah taman bunga. Hamen pun memeluk Kalawa.
“Hamen?” Tanya Kalawa kaget melihat aksi Hamen. Namun, beberapa detik kemudian bukk.
“Auuww. Apa yang kamu lakukan?” kata Kalawa kesal.
“Bodoh! Kamu kemana saja? Aku kira kamu sudah tiada!” balas Hamen kesal.
“Kamu saja yang...” Tidak sempat menyelesaikan perkataannya, Hamen memeluk Kalawa kembali.
“Aku merindukanmu, gadis bodoh.”
“Wah wah.. Akhirnya mereka dipertemukan kembali. Hahahaha,” ujar Simpei melihat betapa romantisnya mereka berdua.

* * * * * * * * * * * * * *

Kemudian, para warga desa yang diculik beserta beberapa wanita yang ditahan dibawa kembali ke Desa Suku Iban. Saat kembali, warga desa sangat senang mendengar kabar bahwa mereka memenangkan peperangan ini dan mereka pun terkejut bahwa apa yang dibawa oleh para pengayau bukan hanya warga yang diculik, tetapi juga Kalawa.
“Benarkah kamu Kalawa? Kemana saja kamu?”
“Kamu tetap cantik seperti dulu.”
Warga desa langsung mengerumuni Kalawa dan memberikan sejuta pertanyaan kepadanya. Di tengah kerumunan tersebut, terdengar suara larian yang semakin mendekat.
“Semuanya permisi. Aku mau lihat apakah itu benar Kalawa?” Suara itu berasal dari seorang ibu bernama Jenta.
“Kalawa? Astaga nak, ini aku indai,” kata ibu Jenta sambil memeluk Kalawa.
Indai? Aku sangat merindukanmu,” tutur Kalawa memeluk ibunya kembali.
Para pengayau disambut hangat oleh Tuai Kampung Mualang maupun warga desa. Mereka melanjutkan kembali Upacara Mengayau tersebut. Para pengayau tersebut disambut oleh musik dan tarian. Mereka meluapkan kegembiraannya dengan menari-nari, lalu kembali ke rumah betang. Kemudian mereka meletakkan kepala musuh yang berhasil mereka penggal selama perang di depan tangga rumah betang sambil bercengkerama antarsesama pengayau dan mengisahkan pengalaman mereka selama perang berlangsung. Kebanyakan isi percakapan mereka adalah tentang aksi Hamen saat berperang. Mereka takjub melihat keseriusan Hamen pada waktu itu. Mereka salah menyangka Hamen. Setelah itu, datang dua orang perempuan dan seorang pawang menuruni tangga rumah betang untuk mengantar sesaji sebagai simbol pemberkatan terhadap hasil perang. Lalu, tuan rumah mengibaskan seekor ayam dan memilih orang-orang yang akan membuat sesaji tersebut yang akan dipersembahkan kepada dewa yang dianggap telah membantu perang. Sesaji tersebut diletakkan di depan tangga menuju rumah betang dan dibiarkan selama tiga hari tanpa boleh dipindah.
Setelah semuanya selesai, mereka baru boleh memasuki rumah betang. Alat-alat musik tradisional pun mulai dimainkan. Bunyi tersebut merupakan tanda bahwa parra pengayau diperbolehkan untuk masuk ke dalam rumah. Namun, sebelumnya Tuai Kampung Mualang membacakan mantra sambil mengibas-ngibaskan ayam di atas kepala semua pengayau. Ia juga mencabut bulu ayam dan memotong ayam tersebut lalu mengoleskan darah ayam di dahi para pengayau. Jika semua proses sudah dilaksanakan, barulah mereka dapat menaiki tangga rumah betang. Ketika sampai di tangga paling atas, mereka disiram dengan tuak dan Tuai Kampung Mualang memberikan minuman tuak tersebut kepada para pengayau dengan maksud memberikan semangat kepada mereka yang telah berhasil memotong kepala musuh.
Di dalam rumah, Tuai Kampung Mualang telah menyiapkan sesaji. Lalu ia mengibaskan seekor ayam di atas kepala para pengayau dan memotong ayam tersebut. Kemudian darahnya dioleskan ke kepala musuh yang disimbolkan dengan tengkorak manusia dan buah kelapa. Ia juga mencabut bulu ayam dan mengoleskannya ke dahi para pengayau. Setelah selesai, sebuah sesaji digantungkan pada salah satu tiang rumah betang, yaitu ranyai. Selanjutnya upacara pun ditutup dengan tarian kemenangan.
“Hamen, jangan lupa bawa kepalanya,” kata Simpei yang telah lebih dahulu pergi ke luar rumah.
“Aduh aku tidak mau membawanya. Haahh kenapa aku bisa melakukan hal yang mengerikan ini?” Dengan terpaksa Hamen membawa satu kepala setelah dipelototi oleh ayahnya. Selama ia menari, Hamen tidak berani melihat kepala yang telah ia penggal. Kaum perempuan pun satu per satu mulai memasuki tarian dan menari bersama.
“Hei Hamen, mau ikut denganku?” Tanya Kalawa saat memasuki tarian.
“Mau kemana?” Kalawa pun menarik tangan Hamen dan membawanya pergi agak jauh dari keramaian. Mereka pergi ke tempat biasanya. Di sebuah danau yang sering mereka kujungi waktu kecil.
“Wah danaunya tidak berubah ya, Hamen.”
“Tentu saja. Siapa yang mau mengubahnya?”
“Hamen,” tutur Kalawa dengan lembut sambil menoleh ke arah Hamen.
“Kenapa?”
“Terima kasih sudah membawaku pulang,” kata Kalawa lagi sambil tersenyum.
Srek.. Srek..
            “Hamen, kamu mendengar suara itu?”
Srek.. Srek.
“Ya aku mendengarnya.. Keluarlah Simpei, aku tau kamu di situ,” kata Hamen sedikit berteriak.
“Hahaha ketahuan ya. Hmm habisnya aku ga enak mengganggu percakapan kalian.”
“Apaan sih, jangan melihatku seperti itu, Simpei!” ucap Hamen kesal melihat tatapan Simpei yang seperti menggoda.
“Hahaha kalian memang tidak pernah berubah.”
Setelah Upacara Mengayau berakhir, semuanya kembali melakukan aktivitas seperti biasa. Namun, yang berbeda adalah sekarang Hamen sangat dihormati oleh warganya. Sekarang ia bukanlah Hamen yang Lemah, tetapi Hamen yang Berani. Ayahnya pun sangat bangga atas hasil kerjanya saat berperang. Hamen sekarang diakui oleh ayah maupun warga desa sebagai orang yang pantas meneruskan posisi ayahnya kelak. Hamen juga sekarang tidak sendirian. Selain memiliki Simpei yang dapat dipercaya, ia juga memiliki Kalawa, orang yang sangat dicintainya.


TAMAT
           
             


Minggu, 06 Desember 2015

Biografi mengenai Ibu Saya



Jenie Louisa Magdalena Rendus:
Seorang Ibu yang Selalu Mengandalkan Tuhan

            Orangtua memiliki peran yang penting dalam membesarkan anak. Sama seperti seorang ayah, ibu pun memegang peranan penting dalam memberikan kasih sayang dan perhatian kepada anaknya. Salah satunya adalah Jenie Louisa Magdalena Rendus. Beliau lahir di Desa Tombasian Atas, Sulawesi Utara pada tanggal 16 Januari 1963. Nama yang didapatkannya berasal dari orang-orang yang penting bagi dirinya, seperti Louisa didapatkan dari seorang guru bernama ibu Mangindaan yang pada waktu itu sangat disegani, sedangkan Magdalena berasal dari nama neneknya yaitu Magdalena Wowor. Beliau merupakan putri dari pasangan suami-istri bernama Kornelius Johanes Rendus (83) yang lahir pada tanggal 30 September 1932 dengan Mientje Tumuyu (77) yang lahir pada tanggal 13 Mei 1938. Pekerjaan mereka berdua adalah seorang petani. Sampai sekarang kedua orangtua Jenie masih sehat dan dapat melakukan aktifitas dengan baik walaupun tidak sekuat seperti pada waktu lalu. Pasangan suami-istri ini dikaruniai tiga orang anak. Satu anak perempuan dan dua anak laki-laki. Jenie Louisa Magdalena Rendus merupakan anak sulung, Rentje Lukas Rendus merupakan anak kedua yang lahir pada tanggal 14 November 1971, dan si bungsu bernama Jefry Alfian Rendus yang lahir pada tanggal 7 Agustus 1977. Walaupun pekerjaan kedua orangtuanya hanyalah seorang petani, semua anaknya telah berkeluarga dan menikmati kehidupan yang cukup baik dari segi perekonomian dan juga dari segi pendidikan. Dengan sabar dan tekun orangtua mereka memelihara dan menyekolahkan anak-anaknya. Orangtua mereka memiliki harapan supaya ketiga anak mereka dapat menikmati kehidupan yang baik, tidak seperti orangtua mereka yang hanya mengenyam pendidikan di SD saja. Itu yang pernah dikatakan oleh ayah Jenie ketika anak-anak masih kecil. Mereka sebagai orangtua punya harapan yang besar bagi ketiga anak-anaknya supaya mereka semuanya dapat menjadi sarjana. Ternyata Tuhan mendengar doa dan harapan orangtua sehingga ketiga anak mereka telah menyelesaikan bangku kuliah dan semuanya telah memiliki gelar S1 dengan jurusan yang berbeda satu dengan lainnya. Jenie adalah sarjana peternakan, adik pertamanya yang mengambil jurusan sastra Jerman jadi sarjana bahasa Jerman, sedangkan adik keduanya yang mengambil jurusan sastra Jepang jadi sarjana sastra Jepang.

Masa Kecil di Desa Tombasian
            Jenie menghabiskan masa kecil di tempat kelahirannya bersama orangtua dengan kedua adik dan kakek serta neneknya di desa Tombasian yang merupakan desa yang berada di pegunungan dengan ketinggian 700m dpl. Oleh karena itu, desa tersebut selalu terasa sejuk dan jika malam hari datang akan terasa sangat dingin. Pemandangan desa Tombasian sangat indah karena dikelilingi dengan pepohonan yang hijau dan dari desa Tombasian juga dapat terlihat di kejauhan dengan kokoh berdiri sebuah gunung yang sewaktu-waktu dapat mengeluarkan api dan lahar karena gunung ini termasuk gunung berapi. Namanya gunung Soputan. Sehingga tanam-tanaman yang di tanam warga di daerah sekitarnya, baik berupa sayur-mayur, jagung, padi dan tanaman lainnya dapat tumbuh subur. Karena gunung Soputan sangat terjaga maka sumber air yang dipakai untuk keperluan sehari-hari oleh warga masyarakat bukan saja oleh masyarakat Tombasian, tetapi juga oleh warga masyarakat lainnya yang berada di sekitar gunung, seperti desa Kanonang. Mereka mendapatkannya dari mata air kaki gunung Soputan dan pada masa lalu dialirkan melalui bambu yang kemudian disambungkan hingga ke desa. Bambu yang diperlukan sangat banyak hingga mencapai beratus-ratus ujung bambu karena jarak yang sangat jauh. Namun, dengan semangat gotong-royong yang sangat kental pada masyarakat membuat semuanya dapat dikerjakan dengan cepat. Semangat kerja keras, kesatuan, dan kekeluargaan, serta kebersamaan warga yang ada di desa Tombasian pun sangat membantu. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk saling bergotong-royong dalam menyelesaikan apapun, termasuk seperti di kebun maupun acara-acara perkawinan, kedukaan, dan pesta ulang tahun. Semua warga desa akan turut berpartisipasi. Tradisi gotong-royong tersebut dinamakan Mapalus.
Di desa Tombasian, apabila ada orang yang meninggal dunia, di akhir acara duka keluarga akan menyiapkan makanan untuk para tamu. Hal ini dilakukan agar keluarga yang ditinggalkan merasa terhibur. Makanan yang disiapkan oleh keluarga tersebut tentunya dibantu oleh warga desa juga. Warga desa akan mengumpulkan beras dan uang, kemudian akan memberikannya kepada keluarga yang berduka. Hal yang dilakukan ini dinamakan Persatuan Umum. Organisasi inilah yang akan mengelola kegiatan-kegiatan yang bersifat umum.
            Selain Persatuan Umum, organisasi lainnya adalah Persatuan Tolong-Menolong. Dalam organisasi ini, ayah Jenie menduduki posisi ketua. Kinerja yang dilakukan oleh ayahnya ini sangat baik sehingga pemerintah pusat mengundang bendaharanya ke Jakarta sebagai apresiasi. Tidak hanya itu, pemerintah pusat juga memberikan dana bantuan untuk organisasi tersebut. Dengan adanya apresiasi dari pemerintah pusat maka gairah gotong-royong masyarakat Tombasian bertambah baik lagi. Selain itu, ada lagi organisasi lainnya, antara lain Persatuan Sehati, Persatuan Tiga Empat Puluh Malam, Persatuan Gloria, dan masih banyak lagi. Persatuan-persatuan ini juga dibentuk agar meringankan keperluan warga desa. Persatuan tersebut seperti menyediakan keperluan-keperluan baik dari segi peralatan makan maupun tenda (dalam bahasa Manado sabuah). Hal tersebut selalu dikerjakan atau dibuat secara bersama-sama. Semua sikap kekeluargaan dan gotong-royong tersebut tetap dijaga dan dilestarikan sampai sekarang.
            Warga desa Tombasian Atas ini banyak yang memiliki pekerjaan sebagai petani, juga masyarakatnya selain bertani ada juga yang berprofesi sebagai guru, pegawai negeri sipil, tentara, polisi, dokter, perawat, dan supir. Mereka sangat rajin dan disiplin dalam bekerja. Misalnya, bagi masyarakat petani, sejak pagi sekitar jam empat subuh, rombongan warga telah siap berangkat menuju kebun untuk bekerja. Karena yang bekerja sangat banyak, tidak butuh waktu yang lama untuk mengerjakan kebun yang begitu luas. Kebun itu dapat diselesaikan hanya dalam waktu yang singkat. Dalam satu hari, mereka dapat menyelesaikan tiga sampai empat kebun yang ada. Bukan hanya dicangkul, tetapi juga sekaligus ditanami jagung yang memang merupakan tumbuhan utama di kebun-kebun warga. Selain jagung, tumbuhan yang ditanam warga pada kebun tersebut beraneka ragam seperti, sayur-sayuran, pala wijah, hingga buah-buahan yang dapat bertahan di daerah dingin. Dengan banyaknya warga yang menanam sayur di kebun sendiri, hal tersebut dapat menambah penghasilan dan memenuhi keperluan pribadi. Selain itu juga, dapat meningkatkan kesehatan warga masyarakat karena mengonsumsi sayuran yang bebas dari pengaruh obat-obat pembasmi hama tanaman.
Bagi Jenie, pemandangan tersebut sudah menjadi kesehariannya ketika ia masih kecil. Kadang-kadang ketika libur, Jenie juga ikut ke kebun bersama orangtua atau bersama kakek-nenek yang memang kesehariannya bertani. Senang rasanya ikut bersama mereka karena banyak yang dapat dilakukan sekaligus rekreasi. Jenie senang melihat pemandangan yang indah dengan pohon-pohon yang hijau dan menyegarkan. Jenie memang senang dengan pemandangan alam sehingga ketika ada tugas menggambar Jenie selalu menggambar pemandangan alam, gunung, dan kebun.

Orangtua Kebanggaan Jenie
Ayah Jenie sangatlah dikenal oleh warga desa. Ia merupakan salah satu tokoh masyarakat di desanya. Pendidikannya tidak tinggi tetapi sejak usia remaja, ayah Jenie telah diangkat oleh masyarakat sebagai Meweteng atau sekarang dikenal sebagai ketua RT. Walaupun usianya yang begitu muda, ayah Jenie sudah terbiasa memimpin, baik rapat warga maupun memimpin warga dalam memindahkan rumah dan memimpin persengketaan warga. Di rumahnya juga sering dijadikan tempat untuk mengurus pertikaian warga, seperti pertikaian tentang harta warisan tanah, dan pergaulan muda-mudi. Selain itu, rapat dalam merencanakan pembangunan desa, baik pembangunan mental dan spiritual dan pembangunan fisik pada gedung pertemuan dan sekolah. Dalam mengurus pertikaian tersebut, ayahnyalah yang selalu memimpin dan selalu berakhir dengan perdamaian karena memakai cara musyawarah dan mufakat sehingga perkara dapat diselesaikan dan semua pihak merasa puas.
Oleh karena ayah Jenie yang pandai dalam memimpin, perkara yang terjadi tidak pernah sampai ke pengadilan negeri atau pengadilan tinggi. Ayah Jenie juga dapat bekerja sama dengan para tokoh masyarakat lain di desa Tombasian dan ayahnya juga mempunyai relasi yang baik dengan pemerintah di desa tetangga. Dan yang sangat menonjol dalam kepribadian ayah Jenie adalah beliau seorang yang selalu berdoa ketika melakukan pekerjaan dan semua anak-anak dapat melihat kekuatan karakter ayah Jenie dari caranya berbicara dan mengerjakan semua pekerjaannya. Dia tidak setengah-setengah dalam mengerjakan pekerjaan. Pekerjaan apa saja selalu dituntaskan dengan baik. Ayah Jenie juga seorang yang tegas dan jujur serta sangat bertanggung jawab dan mengasihi keluarga sehingga ketika ibu Jenie sakit, ayah Jenielah yang menyediakan atau memasak makanan untuk keluarga. Dia pun sangat mengasihi isterinya sehingga mereka selalu bersama. Dan suatu ketika pada saat isterinya harus dirawat di rumah sakit selama sebulan, ayah Jenie sangat setia menjaga dan merawat isterinya.
Sementara itu, Ibu Jenie adalah seorang ibu yang lembut hatinya dan sangat pemurah, juga selalu jatuh belas kasihannya ketika ada orang yang datang minta tolong. Ibunya juga selalu memperhatikan kebutuhan anak-anaknya. Setiap hari ibu Jenie selalu bangun di subuh hari untuk menyiapkan makanan bagi seluruh keluarga dibantu juga oleh ayahnya di dapur. Kemudian, hal yang sangat mengagumkan yang dibuat oleh ibu Jenie adalah ketika anak-anak berhari ulang tahun seperti pengalaman Jenie sendiri ketika dia berhari ulang tahun ibunya selalu menyediakan penganan atau kue yang dibawa ke sekolah untuk dinikmati oleh teman-teman sekolah Jenie. Bahkan orangtua Jenie selalu membuat kue atau apa saja sekalipun Jenie sudah dewasa bahkan telah menikah.
Walaupun orangtua Jenie hidupnya hanya sederhana, mereka sangat menjunjung tinggi kehidupan yang menghargai orang lain dan dapat menjadi contoh keluarga yang selalu menjaga hidup takut akan Tuhan. Orangtua Jenie tidak pernah terlibat dengan kehidupan yang tidak memuliakan Tuhan dengan selalu menjaga hidup rumah tangga yang rukun dan harmonis. Dan Tuhan mengaruniakan anak-anak yang baik dan takut akan Tuhan.

Masa Perjuangan di Bangku Sekolah
Jenie Rendus adalah anak yang dikaruniai kepintaran dalam bidang matematika. Ia menikmati pra sekolahnya di TK GMIM Tombasian Atas. Saat itu, ia dan keluarganya hidup berpindah-pindah. Hal itu disebabkan karena pada tahun 1968 mereka belum memiliki tempat tinggal yang tetap. Walaupun hidupnya yang selalu dipenuhi dengan perpindahan, ia tetap dapat menikmati hidupnya. Jenie selalu merasa gembira dengan teman-teman di lingkungannya. Pada saat itu, ia dan teman-temannya senang bermain bersama, menyanyi, mendengarkan cerita dari guru dan kedua orangtuanya, serta jalan-jalan keliling daerah sekitar. Ia selalu percaya diri dengan lingkungan barunya.
Kemudian, Jenie pun naik ke pendidikan yang lebih tinggi yaitu Sekolah Dasar. Saat naik ke bangku Sekolah Dasar, ia mulai belajar dengan serius. Beliau memulai pendidikannya di bangku Sekolah Dasar pada umur tujuh tahun di SD GMIM Tombasian Atas. Karena kepintarannya dalam berhitung, Jenie sering diikutsertakan dalam kompetisi matematika. Ia pernah meraih posisi kedua dalam kompetisi tersebut. Namun, jika saja pada saat itu guru kelasnya telah mengajarkan materi tentang akar perkalian, ia dapat meraih posisi pertama. Hanya karena masalah satu nomor saja, ia tidak dapat meraihnya. Saat kompetisi tersebut selesai, ia langsung menanyakan soal tersebut ke guru kelasnya yang sedang berada di sekolah. Jarak antara lokasi lomba di kecamatan dan sekolah sekitar tujuh kilo meter. Karena tidak mendapatkan juara pertama, ia tidak dapat meneruskan kompetisinya ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, ia juga sukses dalam pelajaran yang lain sehingga saat ujian kelulusan ia dapat meraih juara dua.
            Pada tahun 1975, ia melanjutkan pendidikannya di SMP Kristen Tombasian Atas. Waktu itu, lokasi SMP tersebut berada di Waleweru yang memiliki arti Rumah Baru. Di SMP, ia menempuh pendidikan selama tiga tahun setengah. Hal tersebut disebabkan oleh pergantian menteri pendidikan. Menteri yang menjadi pengganti bernama Daud Jusuf. Menteri tersebut mengubah tahun ajaran baru di bulan Juli yang sebelumnya berada pada bulan Januari sehingga angkatan pada tahun tersebut harus menunggu setengah tahun untuk mengikuti ujian akhir. Seharusnya beliau dapat menyelesaian pendidikannya di SMP pada bulan Desember 1978, tetapi akhirnya ia harus menunggu sampai bulan Juni 1979. SMP Kristen Tombasian Atas adalah sekolah swasta yang mengharuskan para muridnya mengikuti ujian akhir di Desa Rumoong Atas. Saat hasil dari ujian akhir tersebut keluar, beliau mendapatkan juara dua di SMPnya. Hal tersebut disebabkan oleh karena ia tidak dapat melewati saingannya yang selalu mendapatkan peringkat pertama dari Sekolah Dasarnya dulu. Walaupun dalam hal akademis mereka bersaing, tetapi dalam hal percintaan mereka saling menyatu. Saat mereka telah mengerti artinya lawan jenis, mereka akhirnya berpacaran. Mereka selalu melewati kesehariannya bersama-sama. Pasangan tersebut selalu dikatakan pasangan terpintar yang ada di sekolah. Akan tetapi, hubungan mereka tidak bertahan lama. Saat keduanya lulus dari SMP, mereka mengambil SMA yang berbeda. Beliau melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri Kawangkoan, sedangkan mantan pacarnya melanjutkan ke kota yang lain. Oleh karena itu, komunikasi antara mereka berdua terputus.
            Jenie semakin beranjak dewasa. Saat memasuki bangku SMA banyak kenangan yang dialami. Melihat pergaulan yang semakin berkembang, orangtuanya memutuskan untuk mengadakan rapat keluarga kecil-kecilan. Ayah beliau memanggil Jenie untuk diberikan sebuah nasihat. Nasihat tersebut berisi tentang masa depan. Ayah beliau menginginkan agar ia lebih fokus terhadap pendidikan. Ia ingin anak gadisnya untuk lebih giat lagi belajar dan meraih cita-cita. Ayah Jenie memberikan batasan kepadanya, yaitu di masa SMA tidak diperbolehkan untuk berpacaran. Namun yang namanya anak muda, ia tetap saja melawan perkataan orangtuanya. Ia memilih untuk berpacaran. Gadis yang masih polos tersebut memang melakukan hubungan itu secara diam-diam, tetapi tetap saja orangtuanya mengetahui hal tersebut. Pada akhirnya orangtua Jenie tidak bisa melarangnya. Akibatnya, prestasinya mulai menurun dan tidak lagi secemerlang dulu. Prestasi beliau hanya bertahan sampai kelas 10 semester 1 saja. Ia mendapatkan juara kelas pada waktu itu. Setelah semester 1, semuanya terasa biasa-biasa saja hingga lulus pada tahun 1982.


Saat Perkuliahan di Universitas Sam Ratulangi, Manado
            Setelah lulus dari SMA, beliau melanjutkan ke perguruan tinggi. Ia memutuskan untuk mengambil kuliah di Manado. Saat itu, ada dua pilihan kampus, antara lain pilihan pertama di IKIP Negeri Manado yang sekarang berganti nama menjadi Universitas Negeri Manado (Unima) dan pilihan kedua di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat). Beliau mengikuti tes di kedua universitas tersebut dan hasilnya dinyatakan lulus. Melihat hasilnya tersebut, muncul rasa kebingungan di hati kecil Jenie. Ia bingung akan pilihan yang ada. Akhirnya untuk memutuskan hal tersebut, ia meminta pertolongan Tuhan. Ia berdoa agar diberikan jawaban atas universitas mana yang seharusnya dipilih. Setelah berdoa, muncullah sebuah jawaban. Beliau memilih untuk berkuliah di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) dan memilih Fakultas Peternakan. Ia pun sah menjadi mahasiswi Fakultas Peternakan Angkatan 82. Dalam fakultas tersebut, ia mengambil jurusan Nutrisi.
            Selama perjalanan beliau di perkuliahan, terbersit sebuah pikiran. “Biar saya jadi gembala saja.” Itulah kata-kata yang terpikirkan di benak beliau. Pada akhirnya, saat ia menjalani perkuliahan, ia pun melayani di gereja dengan aktif. Setelah memasuki semester tiga, beliau juga mulai menghadiri persekutuan mahasiswa yang dilayani oleh Campus Crusade for Christ yang di Indonesia dikenal dengan nama Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI). Kemudian, saat memasuki semester empat di bulan September tahun 1984, Jenie memutuskan untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat yang sebelumnya kehidupan tanpa arah membuat Jenie menjalani hidupnya dengan biasa-biasa saja. Memasuki tahun 1987, Jenie bersama teman-temannya di tempat kost mengadakan pemuridan yang dibina oleh para staf LPMI. Mereka mengajarkan tentang bagaimana hidup yang berarti dan bagaimana menikmati kehidupan yang penuh dengan sukacita saat kita mengenal Tuhan dan membagi sukacita tersebut kepada orang lain. “Pelajaran tersebut sangat berarti bagi saya karena saya jadi belajar untuk lebih bersyukur kepada Tuhan,” tutur Jenie.
            Kemudian, ia mengikuti perkuliahan dengan sangat baik. Hal itu disebabkan oleh lingkungan yang ada di sekitarnya mendukung ia untuk terus berjuang keras. Lingkungan di tempat kostnya juga sangat baik. Di sana banyak teman yang takut akan Tuhan. Begitu juga teman-teman kampusnya yang serius dengan perkuliahan memberikan dampak yang positif bagi Jenie. Ia terus mengikuti perkuliahan dengan tekun dan tidak terasa ia sudah memasuki semester akhir. Mulailah masa membuat penelitian. Satu per satu teman-teman Jenie mempersiapkan hasil penelitiannya. Jenie membuat penelitian tentang Pengaruh Tingkat Lemah Jenuh Terhadap Ketebalan Lemak pada Babi dengan menggunakan 5 level ampas kelapa. Selama 3 bulan Jenie meneliti dan pada akhirnya mengukur ketebalan lemak dan mengambil sampel untuk diuji di laboratorium untuk melihat tingkat kejenuhan masing-masing penggunaan level ampas kelapa tersebut. Setelah semua data yang dibutuhkan tersedia, Jenie melanjutkan pembuatan skripsi di bagian Bab III dan semuanya dikonsultasikan dengan dosen-dosen pembimbing.
Akhirnya tiba waktunya untuk menghadap meja hijau. “Memang semuanya sudah dipersiapkan dengan baik, tetapi tetap saat-saat menanti “waktu untuk maju terasa deg-degan dan penuh dengan doa,” tutur Jenie. Pada hari itu, Jenie bersama dua teman lainnya mendapat jadwal yang sama untuk ujian. Tetapi mereka bertiga diuji masing-masing karena dosen penguji dan pembimbingnya berbeda. Namun, dengan anugerah Tuhan semuanya berakhir dengan sangat baik. Pada tahun 1988, Jenie dinyatakan lulus bersama dua temannya yang juga sama-sama diuji pada saat itu. Tentu saja ia sangat bersyukur dengan hasil kerja kerasnya selama enam tahun perkuliahan yang penuh dengan perjuangan dan tidak sedikit tantangan dan pergumulan yang dihadapi. Terkadang pada masa kuliah, untuk membayar uang perkuliahan agak sulit. Hal itu karena orangtua Jenie tidak punya penghasilan tetap. Mereka hanya mendapatkan uang yang terbilang sedikit sehingga harus berhemat agar uang yang diberikan cukup sampai bulan berikutnya. Namun, Jenie sangat bersyukur karena ibunya selalu membantu untuk membuatkan makanan setiap ia pulang ke kampungnya yang jaraknya jauh dari desa tempat tinggal orangtua Jenie. Tetapi semuanya terbayar sehingga pada akhirnya pendidikan dapat diselesaikan.

Perjumpaan dengan Robert saat Mengikuti Acara “Jakarta 88”
            Akan tetapi, sebelum ia menyelesaikan skripsi, ia menerima tawaran utuk mengikuti sebuah acara di daerah Jakarta. Ia mendapatkan tawaran dari pendeta Steven Tong dalam sebuah acara bernama Jakarta 88. Acara tersebut dikemas untuk mendengar ceramah rohani dan juga terdapat workshop mengenai kepemimpinan Kristen bersama dengan mahasiswa dari kota Manado dan sebagian besar adalah mahasiswa binaan Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia. Ia pun meminta ijin kepada dosen pembimbingnya dan akhirnya diperbolehkan untuk ikut. Ia menghadiri acara tersebut bersama sekitar 300 mahasiswa dari Manado. Acara tersebut berlangsung selama tiga hari, tetapi karena menggunakan kapal perjalanan pulang-pergi memakan waktu 10 hari. Kapal yang mereka gunakan adalah kapal Kambuna. Pada saat itu, kapal Kambuna melewati berbagai pelabuhan di kota-kota. Salah satunya adalah pelabuhan Semayang Balikpapan.
Dari Balikpapan, ada juga peserta yang sama-sama akan mengikuti acara Jakarta 88 tersebut. Di antara banyak peserta, ada seorang lelaki bernama Robert Lambertus Rottie yang merupakan staf LPMI Balikpapan. Saat berada di kapal, ia pun berkenalan dengan Robert. Keduanya semakin hari semakin dekat. Hampir setiap malam rombongan mereka berdua bersama rombongan yang lainnya mengadakan ibadah di ruang kelas ekonomi yang sangat luas.  Hal tersebut membuat keduanya semakin menyatu. Ruangan tempat mereka berdua tidur berada di tempat yang berbeda. Namun, tidak tahu mengapa mereka berdua selalu bisa bersama dan setiap hari mengobrol tentang banyak hal termasuk study dan keinginan mereka ke depannya. Mereka yang sama-sama memiliki minat yang sama akan melayani Tuhan dan sama-sama datang dari pelayanan yang sama membuat obrolan mereka terus mengalir. Sesampainya di Jakarta, Jenie dan Robert pun selalu bertemu walaupun penginapan mereka berbeda. Jenie dan rombongan dari Manado ditempatkan di asrama Haji Pondok Gede dan dari asrama jika ingin pergi ke tempat acara yang berada di Senayan, mereka dapat menaiki bus yang telah disediakan oleh panitia. Bus tersebut akan mengantar sekaligus menjemput mereka kembali ke tempat asrama.
            Mereka semua mengikuti acara dengan baik. Jenie dan rombongan kembali menaiki kapal Kambuna untuk pulang ke Manado. Begitu juga Robert bersama rombongan menaiki kapal tersebut untuk pulang ke Balikpapan. Selama perjalanan pulang tersebut, Robert selalu mendekati Jenie. Setelah diselidiki lebih dalam, ternyata Robert telah menaruh hati pada Jenie. Lebih mengejutkannya lagi, Robert telah menyukai Jenie saat pertama kali bertemu. Akan tetapi, saat mengetahui perasaannya Jenie menjadi bingung. Ia terus memikirkannya dan berdoa kepada Tuhan. Kemudian ia pun mengambil keputusan untuk fokus terlebih dahulu kepada kuliahnya yang akan selesai.

Kehidupan Pelayanan dan Pernikahan
            Setelah sampai di Manado, Jenie langsung menyelesaikan skripsinya dan dinyatakan lulus. Ia tetap aktif dalam pemuridan yang dilakukan oleh staf LPMI Manado walaupun telah lulus dari kuliah. Karena ia yang sering datang ke kantor LPMI, ia bertemu kembali dengan pria tersebut. Robert datang ke Manado bertujuan untuk mengadakan kunjungan pelayanan. Kejutan pun diberikan oleh Robert kepada Jenie. Pria tersebut meminta Jenie untuk menjadi pacarnya. Namun, Jenie tidak langsung memberikan jawaban. Ia meminta pertolongan Tuhan terlebih dahulu. Ia berdoa apakan Tuhan mengijinkan ia untuk berpacaran dengan Robert. Robert melakukan kunjungan tidak hanya sekali. Dalam setiap kunjungannya, Jenie terus meminta arahan Tuhan dan akhirnya ia mengambil keputusan. Keputusan tersebut mengubah kehidupan Jenie selanjutnya. Ia menerimanya sebagai seorang pacar. Pada saat itu juga, Robert menantang Jenie untuk melayani Tuhan. Jenie pun menerima tantangan tersebut. Ia bersama dua rekan lainnya yang berasal dari Manado datang bersama-sama ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan. Mereka bertiga dilatih dari segi pengetahuan, keterampilan, dan juga sikap hati yang harus dimiliki oleh seorang Hamba Tuhan. Selama pelatihan, Jenie mengikuti semuanya dengan baik. Setelah kurang lebih satu tahun, pada bulan Juni 1990 ia berhasil melewati semuanya itu. Ia menjadi staf LPMI angkatan sebelas. Sementara itu, Robert merupakan staf LPMI angkatan delapan. Ia telah terlebih dahulu mengikuti pelatihan tersebut.
            Kemudian, Jenie kembali ke Manado karena ia ditempatkan oleh pimpinan LPMI untuk melayani di sana. Ia pun berpisah dengan Robert. Namun, hal tersebut tidak membuat cinta di antara mereka menghilang. Mereka berkomunikasi melalui telepon dan juga dengan surat-menyurat karena pada saat itu handphone masih jarang ditemukan. Hari demi hari terus berjalan membuat cinta antara mereka berdua semakin kuat. Mereka mulai serius membicarakan hubungan tersebut. Pada saat Robert mendapatkan kunjungan pelayanan ke Manado, Robert mengunjungi keluarga Jenie yang berada di desa untuk melamarnya. Setelah itu, diaturlah waktu untuk melakukan pertunangan. Karena Robert yang tinggal jauh di Balikpapan, pertunangan dan pengumuman pernikahan dilakukan secara bersama-sama di gereja yang berada di desa Jenie. Pada tanggal 26 Januari 1990, Jenie dan Robert menikah. Jenie mengikuti suaminya ke Balikpapan. Kemudian, karena pimpinan LPMI meminta mereka untuk ke Samarinda, mereka pun pindah ke sana. Di Samarinda mereka melayani selama 7 tahun.

Pernikahan Jenie dan Robert Dianugerahi Dua Anak Perempuan
            Pernikahan Jenie sudah berlangsung selama satu tahun. Tidak menunggu lama Jenie mengandung anak pertama mereka. Saat anak pertama mereka akan lahir, Jenie kembali ke Manado karena ia ingin melahirkan anak pertamanya di kota tempat Jenie dibesarkan. Jenie pergi sendiri ke Manado karena Robert sedang mendapatkan tugas di Samarinda. Jenie melahirkan melalui operasi caezar. Karena sudah beberapa hari Jenie kesakitan dan tidak mengalami kemajuan, bayi di dalam kandungan tidak maju-maju atau pembukaan tidak bertambah karena secara medis pembukaan seharusnya terus bertambah sampai mencapai 10 cm. Namun, bayi Jenie tetap saja di pembukaan enam. Padahal sudah hampir dua hari berada di ruang bersalin. Akhirnya dibuatlah keputusan untuk dioperasi. Kemudian, di hari tersebut persiapan untuk proses operasi pun dilakukan. Maka pada jam 11.45 pada tanggal 1 Desember 1991, lahirlah anak pertama mereka yang merupakan seorang perempuan. Mereka memberikannya nama Priskila Bernita Rottie. Diberi nama Priskila karena arti namanya adalah “yang tua, yang terkemuka”. Suaminya kemudian menyusul pulang ke Manado dan kemudian kembali ke Samarinda dua bulan kemudian. Mereka berangkat bersama ibu mertua dan sepupu untuk membantu mengurus anak mereka.
Ibu mertua Jenie hanya berkunjung selama tiga bulan saja, tetapi sangat menolong Jenie dan suaminya. Hal itu karena ibu mertuanya merupakan satu-satunya orang yang sudah memiliki pengalaman mengurus bayi. Mereka membutuhkan bantuan dari orang lain karena sibuk bekerja. Selain mertua Jenie, sepupunya juga ikut membantu. Sepupu Jenie tersebut bernama Sientje. Dia sangat membantu dan setia menjaga anak. Kehadiran Sientje sangat menolong juga karena mereka kadang-kadang harus keluar daerah maupun keluar negeri karena tuntutan pekerjaan.
Kemudian, Jenie dan suaminya diberikan anugerah lagi oleh Tuhan. Pada tanggal 20 Oktober 1996 lahirlah anak kedua mereka. Mereka memberikannya nama Grace Samantha Rottie. Nama Grace diberikan karena pada saat kelahiran, Grace dilahirkan secara normal. Arti dari nama Grace tersebut adalah anugerah. Menurut medis, hal ini merupakan suatu anugerah karena biasanya jika anak pertama dilahirkan secara caezar, anak kedua juga demikian. Tetapi ini semua dapat terjadi karena pertolongan Tuhan.

Perjalanan Pelayanan Jenie dan Robert di Luar Negeri
Kemudian, pimpinan LPMI menempatkan kedua pasang suami-istri ini untuk kembali ke Balikpapan. Selama 7 tahun, ia dan suaminya sama-sama melayani di Balikpapan. Pada tahun 2002, ia dan suami bersama teman-teman staf lainnya diberi kesempatan untuk mengunjungi negara Vietnam sebagai apresiasi dari pimpinan karena sudah melayani cukup lama. Banyak hal yang menarik di negara tersebut. Salah satun tempat yang dikunjungi adalah Hanoi. Di sana banyak terdapat danau-danau sedang dan ternyata danau-danau tersebut terbentuk dari bekas hantaman bom yang diketahui bahwa negara tersebut pada zaman dulu banyak dihantam bom. Tetapi itu sangat membuat Hanoi memiliki pemandangan yang sangat indah karena di mana-mana terdapat danau yang sekelilingnya sudah dibuat taman. Tempat tersebut menjadi tempat warga dalam berekreasi, bersantai dan menikmati kesejukan air danaunya. Tetapi ada satu hal yang sangat memprihatinkan ketika mereka melewati satu danau yang di tengahnya ada sebuah bangunan kecil dan untuk mencapai tempat tersebut harus melewati satu jembatan kecil. Jembatan tersebut dulunya dipercayai oleh warga sekitar sebagai tempat pengorbanan seorang bayi jika ingin mendapat apa yang diinginkan. Selain itu, hal yang sangat memprihatinkan juga adalah ketika mengunjungi rumah sakit. Pemandu mereka mengatakan bahwa jika ada orang yang sakit, mereka tidak mendapatkan perawatan yang baik dan bahkan botol infus yang digunakan berasal dari botol bekas karena menurut negara Vietnam jika seseorang tersebut sudah sakit, maka dia sudah menjadi sampah masyarakat dan tinggal menunggu ajalnya. Demikian juga jika terjadi kecelakan lalulintas, maka semua pihak yang terlibat apabila membawa perkaranya ke pemerintah, semuanya akan dimasukkan ke penjara dalam waktu yang tidak diketahui kapan akan dikeluarkan. Sehingga pada saat terjadi tabrakan, pelaku maupun korban tabrakan hanya saling senyum dan masing-masing menyelamatkan dirinya.
Jenie dan suami juga sempat berkunjung ke lokasi tempat rumah ibadah di salah satu desa yang semua bangunan gerejanya hampir berdekatan. Kemudian, ada hal yang menarik lagi di kota Hanoi, yaitu hampir semua warga khususnya kaum perempuan tidak ada yang gemuk. Itulah sebabnya hampir sepanjang daerah tempat warga melintas khususnya di sekitar danau, hampir dimana-mana terdapat timbangan yang menawarkan jasa untuk menimbang berat badan. Kemungkinan pemerintah membatasi berat badan warga karena memang negara ini adalah negara komunis yang semuanya diatur pemerintah, bahkan lahan untuk rumah saja tidak boleh besar. Cukup untuk bangunan rumah yang sedang dan saking kamarnya kecil, panjang ranjangnya juga tidak sampai dua meter seperti panjang ranjang pada umumnya. Itulah sedikit keunikan negara Vietnam.
Setelah itu, pada tahun 2005 Jenie dan suaminya pergi ke Davao untuk mengikuti pelatihan pelayanan untuk keluarga. Dua tahun kemudian, Jenie mendapatkan kesempatan untuk berangkat ke Korea Selatan. Ia mengikuti acara Woga yang merupakan acara pertemuan hamba-hamba Tuhan perempuan. Acara tersebut dihadiri sekitar 80 negara. Di acara tersebut, Jenie dan teman-teman banyak mendengar kesaksian dari berbagai negara termasuk negara Afrika. Mereka juga banyak berdoa serta mengunjungi gereja yang bangunan gedungnya seperti stadion kecil yang sekelilingnya terdiri dari kelas-kelas pemuridan dan ada ruang bayi di sekitar tempat ibadah tersebut agar semua ibu dapat tetap beribadah sambil menjaga anaknya. Pelayanan yang Jenie jalani pun membuatnya dapat keliling negara dan membuatnya sangat bersyukur.

Keunikan Kedua Anak Jenie
Jenie beserta suaminya selalu senang melihat kedua anaknya yang terus berkembang dan tentunya senang melihat semuanya selalu menuruti perkataan mereka. Jenie bersyukur bahwa kedua anaknya dapat bertumbuh dengan selalu mengandalkan Tuhan dan hidup takut akan Tuhan sehingga kedua anaknya diberikan kepandaian yang berlimpah. Kedua anak mereka masing-masing dengan keunikan yang tidak sama satu dengan yang lain. Anak pertama mereka, Priskila Bernita Rottie sedikit pendiam. Pernah suatu saat dia bertanya pada Jenie tentang bagaimana keadaan di surga. Jenie menjawab bahwa di sana semua orang selalu memuji dan menyembah Tuhan. Priskila pun kembali bertanya, “Kok tidak bosankah kalau kerjanya tiap hari itu-itu saja?”
Selain itu, ia juga pernah mengadu pada Jenie bahwa di kelas kedua teman laki-lakinya berkelahi. Guru di sekolahnya pun memanggil mereka berdua dan menanyakan tentang kepada temannya tersebut di bagian mana badan yang kena pukulan temannya. Lalu, Priskila kaget menyaksikan bahwa gurunya meminta temannnya yang kena pukul tersebut untuk membalas memukul sesuai tempat yang dipukul oleh temannya. Jenie yang mendengar hal tersebut menjelaskan tentang bagaimana Yesus mengajarkan untuk saling mengasihi musuh dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Setelah dijelaskan oleh Jenie, sekarang Priskila menyadari walaupun ia adalah seorang “musuh”, Priskila tetap harus mengasihinya.
Sementara itu, hal yang unik dari anak kedua mereka adalah kebiasaan menulis diary. Grace selalu menulis setiap hari tentang apa saja yang terjadi pada hari itu, baik itu pengalaman baik maupun buruk. Lalu, di setiap akhir tulisan selalu diakhiri dengan kalimat “semoga hari esok lebih menyenangkan”. Itulah sedikit kenangan yang bisa teringat dari anak keduanya. Menurut Jenie, masing-masing anaknya memiliki perbedaan. Namun, mereka adalah anak milik Tuhan yang mempercayakannya kepada orangtua agar orangtua mengajarkan kebenaran mengenai ajaran-Nya. Hal ini dilakukan agar kelak mereka pun saat menjadi orangtua dapat melakukan hal yang sama bagi anak-anak mereka dan seterusnya sampai generasi ke generasi hidup takut akan Tuhan tersebut dapat terus berlanjut.

Pendidikan yang Ditempuh Kedua Anaknya
Seiring berjalannya waktu, tidak terasa Priskila sudah menyelesaikan S1 dan menyandang gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Sam Ratulangi. Setelah ia menyelesaikan S1nya, ia langsung melanjutkan pendidikannya di Universitas Klabat (Unklab). Ia mengambil S2 di jurusan Manajemen. Jika berjalan lancar, Priskila akan menyelesaikan kuliahnya pada bulan Desember 2015. Kemudian anak keduanya, Grace Samantha Rottie dapat menyelesaikan pendidikannya di bangku SMA. Kemudian pada tahun 2014, Grace mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di Surya University. Harapan Jenie tentu saja sama dengan orangtua lainnya. Ia ingin melihat anak keduanya juga dapat menyelesaikan pendidikannya di bangku perkuliahan dengan tepat waktu. Ia juga bersama suaminya menginginkan masa depan anak-anak mereka sesuai dengan kehendak Tuhan.

Selalu Mengandalkan Tuhan adalah Kunci Kesuksesan
            Menurut Jenie, orang yang sukses adalah bukan yang memiliki segala sesuatu, baik itu dari kekayaan, kepintaran, mendapatkan semua yang diingini ataupun hal yang lain. Semua itu hanyalah tambahan. Namun, ketika hidupnya benar dan hidup yang selalu mengandalkan Tuhan, maka itulah hidup sukses yang sesungguhnya. Seperti kata dalam Matius 6:33, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Demikianlah perjalanan hidup Jenie sebagai seorang ibu dan juga sebagai seorang Hamba Tuhan.
Segala hormat dan pujian hanya bagi Tuhan yang empunya hidup dan pelayanan ini. Amin.